Postingan

Gambar
Hujan yang tak Kunjung Reda



Hujan tak kunjung reda. Dari balik jendela, aku merenungi dosa-dosa masa lalu. Lalu meratapi kesedihan nasib hari itu. Tuhan tahu aku seorang pendosa. Lantas diberi-Nya aku sebuah teguran. Bodohnya aku tidak pernah sadar. Kemudian aku sibuk merutuki kesedihan yang aku pikir hanya Tuhan berikan padaku. Padahal sedih itu memang sebuah keadilan, tebusan untuk semua dosa yang pernah dijalani.
Ketika aku asyik merutuki, seseorang yang katanya bijak lalu berkata, "Tidak usah terlalu banyak mengeluh. Tuhan tidak hanya mengurus dirimu seorang." Dan aku terdiam bersama hujan yang tak kunjung reda.
Gambar
Embun di Atas Daun



Embun terlihat indah ketika Ia jatuh di atas daun. Jika jatuhnya di atas tanah maka tak lagi Ia berharga.
Gambar
Akal Cerdik Si Nenek Rubah Oleh Hera Gusmayanti Nenek Rubah berjalan sendiri menuju pasar. Tangannya menenteng sekeranjang roti yang nantinya akan ditukarkan dengan beberapa ekor ikan segar. Jarak gubuknya dengan pasar sangat jauh. Ia  harus menyebrangi sungai kecil dan berjalan selama dua jam. Perjalanan ini memang sangat melelahkan bagi wanita tua sepertinya. Meskipun begitu ia tetap menapaki jalan berbatu menuju tepian sungai kecil. Tanpa menghiraukan matahari yang semakin meninggi, nenek rubah berjalan tertatih-tatih sambil mengelap keringatnya. Air sungai saat ini tidak terlalu dalam dan arusnya juga tenang. Ketika hendak menyebrangi sungai ia melihat Pak Kera datang dari arah berlawanan. Wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya gemetar seperti ketakutan. Penasaran dengan sikap Pak Kera, ia pun bertanya. “Kau sepertinya tampak ketakutan Pak Kera? Ada apakah gerangan?” tanya Nenek Rubah. “Semua kelapa yang akan aku jual ke pasar habis dirampas oleh kawanan perampok berjubah hitam Nek,” j…

Cerita Anak

Gambar
Duri Penyelamat Oleh Hera Sujiman Gusmayanti Desa Pinus tampak sepi. Semua penghuninya masih terlelap di tempat tinggal masing-masing. Hanya suara kicau burung yang terdengar merdu. Udara pagi ini juga terasa segar. Butiran embun masih terlihat menggelayut di tepi daun-daun pinus yang hijau. Desa Pinus merupakan desa kecil yang subur dengan sungai yang jernih dan pepohonan yang rimbun. Desa ini dikelilingi oleh pohon pinus sehingga dinamakan demikian. Desa pinus dihuni oleh keluarga kelinci, keluarga landak , keluarga tupai dan keluarga tikus tanah. Di antara keempat keluarga tersebut, keluarga landak sering dikucilkan dan diejek. Keluarga lain menganggap bahwa keluarga landak tidak cocok hidup berdampingan dengan mereka. Duri mereka yang tajam terkadang tanpa sengaja sering melukai penduduk yang lain. Hal ini membuat keluarga landak sering tidak diundang ke dalam acara-acara yang ada di desa pinus. Seperti hari ini, anak bungsu dari keluarga kelinci sedang berulang tahun yang kedua. Se…

Plesir

Gambar
Turut Mengapung di Floating Market Oleh Hera Sujiman Gusmayanti Bentangan Danau Situ Umar tampak mendominasi lahan seluas 7 hectar ini. Sinar matahari pagi yang menerpa membuat air danau begitu berkilau. Laksana permata di tengah air. Gunung Tangkuban Perahu yang begitu tersohor pun turut memperindah pemandangan dengan menjadi latar belakang salah satu danau yang terkenal cantik di tanah Pasundan. Hijau, adalah satu kata yang terucap jika melihat sekeliling danau. Di atas danau, kurang lebih terdapat  46 perahu mengapung rapi di pinggiran danau. Perahu-perahu itu bukan perahu biasa. Fungsinya bukan untuk mengangkut penumpang, bukan pula untuk menangkap ikan. Jejeran perahu itu justru memuat beraneka macam panganan. Mulai dari sekedar cemilan sampai makanan berat mengenyangkan. Dan kesemuanya adalah panganan khas Jawa Barat. Melalui perahu-perahu itulah para pedagang sibuk melayani pembeli. Aktivitas yang dilakukan di atas perahu-perahu mungil ini memang persis sebuah pasar karena tempat …

Cerita Anak

Gambar
Anjar Pahlawan Cilik Oleh Hera Sujiman Gusmayanti Azan Subuh baru selesai berkumandang tapi Anjar sudah bangun. Bukan ibu atau bapak yang membangunkannya. Jam weker pemberian kakek tahun kemarinlah yang memboyongnya dari alam mimpi ke dunia nyata. Perlahan Anjar duduk dan mematikan jam weker yang mengeluarkan bunyi ayam berkokok. Dengan malas ia mengucek matanya yang terasa lengket. Setelah itu Anjar hanya duduk diam seperti sedang meresapi mengapa ia bangun sepagi ini di hari Minggu. Seharusnya ia bisa bangun agak siang. Seakan mendapatkan alasan penting akan sikapnya, Anjar segera turun dari tempat tidur kayu yang ia gunakan setiap hari sejak ia diharuskan untuk tidur sendiri. Anjar menuju dapur tempat ibu memasak kue. Begitu mamasuki dapur, tampak ibu sedang menyusun kue apem berwarna merah muda yang baru saja diangkat dari panci pengukus. Melihat Anjar yang sudah terbangun jam segini ibu tersenyum maklum. “Jadi iku bapak ke pasar?” tanya ibu kepada putra bungsunya. Anjar mengangguk de…